Featured Post Today
print this page
Latest Post

Kelemahan dan keunggulan Tempat Pakan Ayam (Super Feeder)

 


0 comments

Mengatur Minimum Ventilasi Pada Kandang Closed Housed


Kali ini sesuai judul yg ditulis di atas, kita akan membahas sedikit tentang minimum ventilasi pada kandang broiler systen tertutup atau bahasa kerennya kandang Closed Housed (CH), di mana kandang model ini sudah ramai 10 tahun terakhir khususnya di pulau Jawa dan terus muncul pemain-pemain baru dengan system kandang seperti ini.

Kandang CH sendiri merupakan kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak. Tujuannya ialah untuk menyediakan udara dan iklim yang kondusif bagi ternak sehingga meminimalisasi tingkat stress.

Untuk menyediakan kondisi kandang yg nyaman di dalamnya, kandang CH perlu manajemen yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan di wilayah lokasi kandang, artinya setiap wilayah dengan kondisi lingkungan yang berbeda maka manajemen pengoperasian kandang juga berbeda termasuk salah satunya pengaturan ventilasi undara. 

Banyak kasus ayam bersin atau dikenal di kalangan peternak maupun di kalangan Technical Service (TS) ayam Cekres, biasa di masa pemeliharaan awal maupun akhir, tetapi lebih sering ditemukan kasus terjadi di minggu kedua dan ketiga masa pemeliharaan di mana system intermiten blower masih diterapkan. Tak jarang di group-group komunitas banyak teman-teman menanyakan solusi untuk mengatasi kasus seperti ini, banyak juga yang mengatakan bahwa ini dilema kandang-kandang CH.

Ayam cekres sendiri biasanya terjadi karena adanya iritasi di dalam saluran pernapasan, iritasi ini disebabkan oleh kadar amoniak (NH3) di dalam kandang melebihi batas maksimal sehingga terhirup oleh ayam, untuk di kandang CH biasanya disebabkan karena manajemen ventilasi yg kurang tepat, dalam artian pengaturan jeda hidup dan mati blower (Intermiten) tidak pas dengan kadar amoniak yang dihasilkan dari feses di dalam kandang. Sederhananya jumlah produksi amoniak tidak seimbang dengan waktu pembuangan udara oleh blower dari dalam ke luar kandang. 

MENGATUR INTERMITEN

Untuk dapat mengatur intermiten dengan baik bisa dilakukan dengam dua cara, pertama dengan cara natural dan yang kedua dengan alat tester Amoniak, Oksigen dan Co2. 
Pertama dengan cara natural yaitu kita  bisa menggunakan indra penglihatan dan penciuman serta melihat respon dan tingkah laku ayam di dalam kandang. Cara ini sedikit sulit dilakukan karena butuh pengalaman panjang bertahun-tahun, harus peternak yang berpengalaman dan memgerti pola tingkah laku ayam, faham apa yg diinginkan ayam dan faham tentang respon ayam terhadap kondisi di dalam kandang, dengan kefahaman tersebut diharapkan bs mengambil kesimpulan untuk mengatur intermiten blower yang tepat.

Kedua, dengan menggunakan alat, di sini yang akan kita bahas yaitu menggunakan alat Co2 tester, mengapa alat ini? Ya karena harganya yang masih cukup terjangkau dibandingkan dengan amoniak tester ataupun O2 tester. Parameter yang akan kita gunakan untuk menvatur ventilasi yang teoat di si i adalah kadar Co2 di dalam kandang, yang kita asumsikan co2 bernading lurus denga  kadar nh3 di dalam kandang. 

Batas toleransi kadar co2 di dalam kandang kisaran di angka maksimal 700 ppm, jika melebihi angka ini, ayam cenderung menghirup amoniak yang lebih banyak ketimbang udara segar yang pada akhirnya menyebabkan iritasi oada saluran oernapasan dan efek terburuknya bs keracunan apabila tdk ada pergerakan udara sama sekali.

Langkah yang harus kita lakukan adalah menstandarkan intermiten sesuai tabel manajemen pemeliharaan. Letakan co2 tester kira2 30 cm dr sekam atau litter, amati angka yang muncul mulai blower mati hingga blower hidup lagi. Nah di sini yang ingin kita cari adalah angka co2 kisaran di angka 500-600 ppm saat itu juga blower harus sudah membuang udara, terus ulangi hingga mendapatkan jeda off blower yang optimal, tidak terlalu cepat on juga tidak terlalu lama off. 

Setelah mendapatkan angka menit intermiten yang tepat maka diharapkan kendala amoniak yang menumpuk di dalam kandang ketika masa intermiten bisa diatasi, artinya kita sudah berhasil mendapatkan ventilasi mininum di dalam kandang. Hal ini bs berubah tergantung umur ayam, karena ada kaitannya dengan produksi feses harian. Disarankan untuk dilakukan pengecekan setiap 3 hari sekali saat jadwal iintermiten masih ada di tabel manajemen pemeliharaan. 

 Selamat mencoba. 
0 comments

Menghitung Kebutuhan Kipas dan Cellpad Kandang Tertutup (Close House System)


PENGATAR

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenahi berapa jumlah ideal kipas yang dipakai dalam kandang tertutup / close house maka saya mencoba membahasnya, kalau ada yang salah mohon dikoreksi.
Sebelum kita membahas lebih lanjut yang perlu kita fahami adalah prinsip dasar.



  1. Kandang close house adalah sistem perkandangan yang menyediakan atau memberikan sirkulasi udara yang baik bagi ayam. Sistem ini harus mampu memberikan suplai oksigen yang cukup dan membuang gas gas berbahaya seperti CO 2 dan  amoniak.
  2. Memberikan kondisi suhu dan kelembaban optimal bagi ayam.
Untuk mendapatkan hal tersebut maka perhitungan jumlah kipas dan inlet yang  tepat mutlak diperlukan.

MENGHITUNG JUMLAH KIPAS 

Mengingat dari prinsip close di atas maka jumlah kipas yang dipasang harus mampu memindahkan udara dalam kandang keluar dalam jangka waktu tertentu, hal ini tergantung dari volume ruang kandang kecepatan angin yang dikendaki.
Berikut adalah grafik hubungan antara kecepatan angin dan penurunan suhu

Hal yang lain yang perlu diperhatikan adalah kecepan max angin yang ideal bagi ayam, sebagiamana tabel berikut :
Disamping faktot diatas yang harus diperhitungkan adalah panas badan yang keluar dari tubuh ayam yang harus dikeluarkan dari dalam kandang, Dari hasil penelitian diperoleh  konstanta per kg berat badan dibutuh kecepatan angin 4 cfm untuk memperoleh suhu yang ideal. Tentu halangan angin juga harus diperhitungkan
Dasar inilah yang saya anggap paling ideal untuk menetukan jumlah kipas pada kandang tertutup.

SIMULASI KANDANG UKURAN  12 x 120 m

Asumsi : 
Fan 50 inch daya hisap 44.500 m3/jam atau 26.190 cfm
Kepadatan 13 ekor/m2
Berat afkir 2,2 kg

Maka kebutuhan kipas 

(12 x 120 x 13 x 4 x 2,2) / 26.190  = 6,2 dibulatkan 7 kipas.

Akan tetapi perhitungan di lapangan faktor pembaginya tidak 26.190 tetapi 22.500 hal ini mempertimbangkan halangan dalam kandang dan penurunan kemampuan kipas


Jadi hasil akhirnya  
(12 x 120 x 13 x 4 x 2,2) / 22.500  = 7,3  dibulatkan 8 kipas.


MENHITUNG INLET CLOSE HOUSE

Dalam menhitung inlet close kita berpedoman pada jumlah kipas serta kecepatan angin yang dikendaki
Misal jika pakai fan 50 inch dengan daya hisap 44.500 m2/jam dengan kecepatan angin 2,3 m/detik di dekat celldeck maka luas inletnya

(44.500m2/jam : 3600) ; 2,3 = 5,37 m2


SEMOGA BERMANFAAT
1 comments

Belajar Baca Kotoran Ayam

Drh.Moh Indro Cahyono
Peneliti virus & praktisi penanganan wabah penyakit hewan

Karena sudah waktunya makan siang maka saya akan mengajak sampean utk belajar "membaca" kotoran ayam.
Kotoran ayam terdiri dr 2 bagian, bagian putih = asam urat dr kencing ayam (berhubungan dg ginjal) & bagian berwarna = kotoran ayam (berhubungan dg usus).

Kencing ayam yg bagus akan mengandung sedikit asam urat, semakin banyak asam urat menunjukan ketidak seimbangan dlm.tubuh ayam krn terlalu banyak material yg harus di filtrasi/saring oleh ginjal.

Kotoran ayam, bisa dibaca dari 3 hal :

1. Warna kotoran : 
Hijau, berasal dr cairan empedu yg dikeluarkan saat ayam tidak makan. Bisa krn infeksi virus atau bakteri kronis.
Coklat, berasal dr sisa pakan yg tidak tercerna, bisa krn infeksi bakteri di usus.
Kuning, berasal dr runtuhan pelapis usus + sisa pakan, biasanya krn infeksi bakteri atau protoza.
Merah, berasal dari darah di saluran usus belakang, umumnya krn protozoa eimeria (koksidiosis/berak darah)
Hitam, berasal dr darahbdi saluran usus depan (duodenum/jejunum) umumnya krn luka akibat koksidiosis atau bakteri clostridium.

2. Bentuk kotoran
Kering, padat = normal
Lembek = proses pembusukan sisa pakan oleh bakteri
Berbusa = gas akibat racun dari bakteri (coli/NE)

3. Bau kotoran
Tidak berbau padat = normal
Tidak berbau, encer putih + hijau = infeksi virus
Bau busuk = infeksi bakteri di usus
Bau amis darah = infeksi koksidiosis

Semua metode pembacaan ini HANYA SEBAGIAN dr metode diagnostik lapangan utk membaca penyakit. Diagnosa terbaik adl dengan menggabungkan pembacaan kotoran + bedah ayam/nekropsi + riwayat gejala penyakit. Semakin lengkap semakin tepat diagnosa.
Salah diagnosa = salah pengobatan = ayam gak sembuh.
















Tetap semangat & terus belajar bersama, semoga bermanfaat.

0 comments

Download Cover Sholawat by Sabyan Gambus Format mp3




 
1. Ya Habibal Qolbi
Download

2. Ahmad ya Habibi
Download

3. Qomarun - Mostafa Atef
Download

4. Rohman ya Rohman
Download

5. Ya Asyiqol
Download

6. Ya Jamalu
Download

7. Deen Assalam
Download

0 comments

PAKAN NON AGP, EFEK DAN ANTISIPASINYA



Sabtu, 3 Maret 2018 - Akhir-akhir ini dunia peternakan Indonesia khususnya di bidang Broiler dicemaskan oleh peraturan pemerintahan atas larangan penggunaan antibiotik dalam pakan, peraturan ini efektif sebenarnya awal 2019 hanya saja beberapa perusahaan baru memulai awal tahu ini dan bahkan ada perusahaan lain yang malah sudah memulai lebih dulu lebih awal. Peraturan ini berdasarkan pada Permentan no 14 tentang larangan penggunaan AGP.

Mungkin banyak dari kita yang belum tahu, apa sih AGP itu. Oke AGP singkatan dari Antibiotik Growth Promoter atau jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya Antibiotik Pemacu Pertumbuhan atau dalam beberapa referensi AGP didefinisakan sebagai “semua obat yang menghancurkan dan atau menghambat pertumbuhan bakteri yang diberikan dalam dosis rendah atau disebut dengan Sub-Therapeutic dose (FAO, 2001).” “yang ditambahkan sebagai imbuhan dalam pakan ternak (CDC, 1999).”

Pengertian secara sederhana, AGP sendiri berfungsi sebagai pembunuh bakteri yang berada di dalam usus yang berpeluang menjadi bakteri patogen (penyebab munculnya penyakit) sehingga ketika bakteri itu mati atau berkurang berkibat pada tidak bisa bersaing dengan usus dalam menyerap kandungan nutrisi pakan seperti asam amino, lemak, energi dll. Apabila AGP tidak lagi ditambahkan di dalam pakan, maka peluang tumbuhnya bakteri patogen lebih besar sehingga memperbesar resiko peluang ayam sakit.

Larangan ini sendiri cukup berdasar, di mana jika AGP digunakan dalam pakan dengan jangka waktu yang cukup panjang dikhawatirkan akan terjadi mutasi genetik pada berbagai macam bakteri khususnya yang berada di dalam usus yang pada akhirnya menjadi resisten terhadap antibiotik. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kehidupan manusia jika bakteri resisten terhadap antiobiotik.

Akan terjadi infeksi yang tidak bisa lagi diobati dengan antibiotik sehingga resiko kematian akibat infeksi akan semakin besar. Saat ini juga laju penemuan bakteri jenis baru yang bermutasi genetik lebih banyak ketimbang penemuan-penemuan jenis antibiotik baru. Artinya perkembangan bakteri lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan riset antibiotik.

Hemat saya formulator pakan dari beberapa perusahaan tidak akan tinggal diam melihat fenomena ini, pasti akan ada pengganti AGP walaupun hal itu sepenuhnya tidak bisa menggantikan AGP, karena AGP cukup murah dan meriah. Kalaupun ada pengganti mungkin harganya tidak semurah AGP sehingga peluang naiknya harga pakan cukup besar, cukup dilematis.

Kemudian hal-hal yang perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi akibat pakan non AGP yaitu dengan cara memperketat Biosecurity, biosecurity yaitu usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut, yang perlu diketahui bahwa biosecurity tidak dapat digantikan oleh ANTIBIOTIK DAN VAKSIN. Biosecurity meliputi:

1.  Pengendalian lalu lintas (orang, kendaraan dan perlatan)
2.  Lingkungan kandang yang sehat dan bersih
3.  Program sanitasi yang baik (penggunaan antiseptic dan desinfektan yang tepat)
4.  Pengendalian vektor (tikus, lalat dan kutu)
5.  Program vaksinasi dan aplikasi yang tepat
6.  Program pengobatan yang sesuai
7.  Program monitoring kesehatan hewan
8.  Monitoring sensitifitas obat

Selain memperketat biosecurity, peternaknya juga nampaknya harus lebih banyak bermain prebiotik dan probiotik untuk membantu usus menyerap nutrisi pakan secara optimal, dan terakhir yang perlu kita ingat yaitu rejeki para peternak bukan pada AGP, tetapi tetap faktor ketelatenan dan keseriusan serta doa itu lebih penting.

Semoga bermanfaat.
0 comments

Tips Mengetahui Apakah Anak Ayam Mendapatkan Apa Yang Mereka Butuhkan

Jumaat, 8 Desember 2012 - Brooding berperan penting dalam menentukan performance yang optimal bagi broiler. Tanpa menyiapkannya dengan baik, broiler tidak akan dapat mencapai potensi genetiknya secara maksimal, sehingga berefek pada hasil panen yang kurang baik, keseragaman populasi yang jelek, dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Memanfaatkan fase ini sangat penting karena dengan persiapan brooding yang buruk akan berakibat pada fase berikutnya. Memeriksa untuk melihat apakah anak ayam yang kita pelihara mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan berkembang membantu memaksimalkan hasil selama periode fase brooding, persiapkan diri untuk hasil yang baik. Di bawah ini kita akan menemukan beberapa cara sebagai indikator seberapa baik manajemen yang kita lakukan.
1. Suhu Rektal
Salah satu cara untuk menentukan apakah anak ayam cukup hangat atau tidak adalah dengan memeriksa suhu rektumnya. Suhu rektum ayam harus diukur saat sampai di kandang dan diukur lagi satu jam pertama setelah penempatan (pada brooding). Suhu 40 ° C sudah cukup normal. Adapun di atas atau di bawah suhu tersebut bisa merugikan untuk kesehatan dan perkembangan. Perhatikan indikator stress panas atau stress dingin selama tiga sampai empat hari pertama setelah penempatan. Beberapa indikator-indikator ini bisa meliputi berkurangnya konsumsi pakan ataupun minum, bergerombol seperti kedinginan, menempel ke sekat brooding menandakan terlalu panas, dan terlihat lemah.
2. Cek Tembolok
Cara lain untuk menentukan apakah ayam mendapatkan apa yang mereka butuhkan adalah memeriksa temboloknya dalam 12-24 jam pertama setelah penempatan. Untuk memeriksa tembolok, angkat secara fisik ayam dan rasakan hasil tembolok untuk melihat apakah isinya terisi dengan campuran pakan / air. Tembolok yang terisi dengan benar akan memiliki keempukan seperti sabun colek / selai kacang .
Jika kurang dari 95% anak ayam yang diperiksa memiliki tembolok yang  tidak penuh, cobalah memeriksa faktor-faktor berikut:
  • Pakan -  kekurangan pakan atau tempat pakan, sebaran pakan tidak merata, bentuk fisik pakan, kualitas pakan
  • Air - kualitas, kuantitas, tempat minum terlalu tinggi / rendah, niple yang tersumbat, tekanan air yang kurang, suhu air hangat
  • Ventilasi – tirai kurang dibuka (CO2 tinggi, amonia, kelembaban), tirai terlalu terbuka lebar, kecepatan udara berlebihan.
  • Suhu - terlalu hangat, terlalu dingin

Bobot umur 0 hari -, Tujuh-, dan hari ke – 14

Sampling bobot nol, tujuh, dan 14 hari dapat membantu menentukan apakah anak ayam mendapatkan bobot badan pada tingkat yang tepat. Tujuh hari setelah penempatan, bobot anak ayam harus 4,39 kali bobot awal, sementara pada hari ke-14, bobot badan harus meningkat 2,51 kali berat 7 hari. Jika anak ayam tidak mendapatkan bobot badan yang cukup, kita harus mengevaluasi  kembali majamen pemeliharaan yang kita jalankan.

Kandang dan Kelembaban sekam/gabuk

Memeriksa kandang dan kelembaban sekam membantu mengelola sekam  dengan baik, penerapan ventilasi, dan ketinggian tempat minum. Tingkat kelembaban yg normal di kandang sekitar 60%, sedangkan tingkat kelembaban untuk sekam sekitar 25-30%. Kelembaban yang terlalu tinggi dapat berbahaya bagi telapak kaki ayam (luka akibat amoniak), menyebabkan berkurangnya konsumsi pakan ataupun air serta pertumbuhan ayam, meningkatkan resiko inveksi bakteri dan masuknya penyakit, mengurangi kualitas ceker dan kualitas panen.

Untuk mengukur kelembaban, kita memerlukan alat (Higro meter). Kita juga bisa memakai cara “genggaman tangan” untuk memeriksa tingkat kelembaban sekam / gabuk; ketika digenggam sekam / gabuk hancur dan tidak menggumpal berarti kelembaban sekam / gabuk masih aman. Namun jika menempel dan menggumpal seperti bola berarti mengindikasikan sekam / gabuk yang terlalu lembab.
Banyak dari kita hanya “menunggu untuk melihat” di akhir pertumbuhan untuk mengukur performance populasi .

Masalahnya pada metode ini yaitu kita tidak akan tahu di titik mana kelemahan manajemen yang kita lakukan, oleh sebab itu disarankan untuk memeriksa manajemen pemeliharaan di sepanjang fase pemeliharaan ayam, terutama di masa brooding. Melakukan cara ini bukan hanya untuk melihat sejauh mana kemajuan proses pemeliharaan, tetapi juga memungkinkan kita melakukan evaluasi  yang diperlukan dalam manajemen pemeliharaan, membantu agar populasi ayam tetap berada dalam manajemen pemeliharaan yang baik untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Terjemahan dari artikel www.cobb-vantress.com
 Penerjemah: Agus Saputra
0 comments

Indonesia Stockshot - Selimut Islam di Dana Mbojo


0 comments

Pentingnya Manajemen Ventilasi pada Broiler



Jumaat, 24 November 2017 - Masalah ventilasi merupakan salah satu tantangan yang paling umum dihadapi oleh para peternak broiler baik kandang open house maupun close house. Broiler harus dengan mudah mencapai potensi genetik dan ekonomi saat proses pemeliharaan di lingkungan yang terkontrol secara khusus yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ayam. Sistem ventilasi dirancang untuk secara otomatis mengelola lingkungan ayam sesuai kebutuhannya, terutama selama masa brooding. Apakah Anda menggunakan sistem lorong (dihisap oleh blower) dan tirai naik turun atau kombinasi keduanya, ventilasi diperlukan untuk menciptakan lingkungan optimal yang dibutuhkan broiler untuk tumbuh dan berkembang selama setiap tahap pertumbuhan.

Sistem yang tepat tidak hanya memastikan sirkulasi udara yang memadai di seluruh kandang, tapi juga mengurangi kelembaban berlebih yang bersumber dari sekam / litter, mempertahankan kadar oksigen dan mengurangi karbondioksida, dan mengatur suhu di dalam kandang.

1. Pertahankan Kualitas Udara

Persyaratan utama dari setiap sistem ventilasi yaitu minimal memenuhi permintaan oksigen ayam broiler modern dan untuk memastikan sirkulasi udara yg cukup ke seluruh kandang. Oksigen sangat dibutuhkan untuk produksi panas tubuh maupun metabolisme nutrisi yg sangat penting untuk pertumbuhan. Selama periode minggu pertama, karbon dioksida terutama yang dihasilkan dari pembakaran pemanas khususnya dari elpiji dan dari anak ayam itu sendiri. Sistem pernafasan ayam pada kapasitas penuh pada suhu kenyamanan. Seiring suhu lingkungan turun, anak ayam harus menghirup kadar oksigen jauh lebih tinggi agar tetap nyaman. Sistem ventilasi menghilangkan karbon dioksida dan memasok oksigen untuk anak ayam untuk mengembangkan sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) yang sehat dan untuk mencegah masalah seperti asites (kekurangan oksigen dalam kandang).

2. Kurangi Kelembaban Berlebih

Sistem ventilasi minimal bertanggung jawab untuk menghilangkan kelembaban berlebih dari sekam / gabuk. Ayam broiler modern saat ini mengkonsumsi air hampir dua kali lebih banyak pada umur 28 hari daripada moyang mereka 25 tahun yang lalu. Sekitar 75 persen air yang dikonsumsi setiap hari dilepaskan sebagai uap dari sistem pernafasan atau disimpan bersamaan dengan tumpahan air minum.

Sekam / Gabuk di kandang berfungsi seperti spons. Jika sistem ventilasi tidak bisa mengikuti kelembaban yang tersimpan di sekam, permukaan sekam akhirnya lembab dan licin. Begitu kelembaban mencapai permukaan, tidak ada air yang bias dilepas dan kondisnya tidak bisa dibalik. Ini merupakan lingkungan yang berbahaya dan tidak sehat, menghasilkan muatan bakteri yang sangat tinggi, bau amoniak, peluang serangga dan bahkan bakteri berkembang. Namun, pengelolaan tingkat kelembaban yang tepat harus memastikan tingkat oksigen dan karbon dioksida yg tepat.

3. Mengatur Suhu

Fungsi ketiga dari sistem ventilasi yaitu minimal menjaga distribusi suhu udara yang tepat di dalam kandang. Anak ayam belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri sampai usia 14 hari, dan karena itu yang bertanggung jawab penuh adalah pemanas.

Selama tujuh hari pertama, normalnya doc akan berkembang lebih dari empat kali dari berat awal (40 x 4 = 160 g). Ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk mencapai pertumbuhan seperti itu dalam satu minggu. Namun, jika doc kedinginan, mereka kurang aktif dan mereka tidak makan. Jika mereka tidak makan, mereka tidak tumbuh. Menjaga anak ayam tetap hangat dan memastikan pakan tambahan yang memadai, akses ke air minum dan ventilasi minimum yang baik merupakan faktor penting untuk menentukan kinerja keseluruhan populasi.

Diterjemahkan dari artikel www.cobb-vantress.com
0 comments
 
Supported by : Agus blogger team | Agus IT
Copyright © 2011. Agus Saputra - All Rights Reserved
Template Development by Agus IT
Proudly powered by Blogger